Senin, 12 April 2010

Tari Baris



Tari Baris

Tari Baris ini adalah tari Bali yang menggambarkan ketangkasan pasukan. Sebagai tarian upacara, sesuai dengan namanya “Baris” yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria, umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh, lugas dan dinamis, dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede. Setiap jenis, kelompok penarinya membawa senjata, perlengkapan upacara dan kostum dengan warna yang berbeda, yang kemudian menjadi nama dari jenis- jenis tari Baris yang ada.
Tari-tarian Baris yang masih ada di Bali antara lain :
• Baris Pendet : Tari baris yang para penarinya tampil tanpa membawa senjata perang melainkan sesaji (canang sari), ditarikan dalam upacara Dewa Yadnya. Di desa Tanjung Bungkak (Denpasar) penari baris ini membawa canang yang disebut canang oyod dan pada bagian akhir tariannya, para penari menari menggunakan kipas sambil “ma-aras-arasan” atau bersuka ria.
• Baris Dadap : Baris yang membawa senjata dapdap (semacam perisai), gerakannya lebih lembut dari jenis-jenis tari Baris lainnya dan penarinya menari sambil menyayikan tembang berlaras slendro dengan diiringi gamelan Angklung yang juga berlaras slendro dan ditarikan dalam upacara Dewa Yanya kecuali di daerah Tabanan ditarikan dalam upacara Pitra Yadnya, banyak dijumpai didaerah Bangli, Buleleng, Gianyar dan Tabanan.
• Baris Tamiang : Baris yang membawa senjata keris dan perisai yang dinamakan Tamiang, dapat dijumpai di daerah Badung.
• Baris Bedil : Baris ini ditarikan oleh beberapa pasang penari yang membawa imitasi senapan berlaras panjang (bedil) terbuat dari kayu, ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya dan terdapat di daerah Klungkung, Bangli dan Badung.
• Baris Gowak : Tarian yang melukiskan peperangan antara pasukan Tegal Badeng (Badung) dengan sekelompok burung gagak pembawa kematian, di mana beberapa pasang penarinya memerankan prajurit Tegal Badeng dan yang lainnya sebagai sekelompok burung gagak dengan kostum yang memakai sayap. Tarian ini sangat disucikan oleh masyarakat desa Selulung, Kintamani (Bangli) dan terdapat dalam Upacara Dewa Yadnya.
• Baris Katekok jago : Baris yang membawa senjata tombak poleng (tombak yang tangkainya berwarna hitam dan putih) dan berbusana loreng hitam putih ditarikan dalam upacara Pitra Yadnya (Ngaben). Umumnya ada di daerah Badung dan Kodya Denpasar. Sedang tarian Baris sejenis di Buleleng disebut Baris Bedug dan di Gianyar disebut Baris Poleng.
• Baris Cendekan : Baris ini ditarikan oleh beberapa pasang penari yang membawa senjata tombak yang pendek (cendek), ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya.
• Baris Jangkang : Baris ini ditarikan oleh penari-penari yang membawa senjata tombak panjang, ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya dan terdapat di daerah Bangli, Gianyar, dan Klungkung (Nusa Penida).
• Baris Demang : Ditarikan oleh sekelompok penari yang menggambarkan tokoh Demang (salah satu dari tokoh Pagambuhan) dalam drama tari klasik Gambuh dengan senjatanya pedang, tumbak, panah dan lain-lainnya. Tari Baris ini terdapat di daerah Buleleng.
• Baris Mamedi : Tarian ini menggambarkan sekelompok roh halus (mamedi) yang hidup ditempat angker seperti kuburan, para penarinya memakai busana yang terbuat dari dedaunan dan ranting yang diambil dari kuburan. Gamelan pengiring tarinya gamelan Balaganjur. Tarian diselenggarakan dalam rangka upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan terdapat di daerah Tabanan.
• Baris Tumbak : Baris yang membawa senjata tombak dan berbusana awiran berlapis – lapis ditarikan dalam upacara Dewa Yadnya, banyak dijumpai di daerah Badung, Bangli dan Gianyar.
• Baris Presi : Para penari baris ini membawa senjata keris, dan sejenis perisai yang dinamakan presi. Diadakan dalam kaitannya dengan upacara Dewa Yadnya. Banyak dijumpai di daerah Bangli dan Buleleng.
• Baris Bajra : Baris yang membawa senjata gada dengan ujungnya berbentuk bajra (seperti gada Bhima) dan ditarikan dalam upacara Dewa Yadnya serta dapat dijumpai di daerah Bangli dan Buleleng.
• Baris Baris Kupu-Kupu : Sesuai dengan temanya, tari Baris ini melukiskan kehidupan binatang kupu-kupu dan penarinya mengenakan sayap kupu-kupu, gerakannya lincah dan dinamis menirukan gerak-gerik kupu-kupu. Hingga kini tari ini ada di desa Renon dan Lebah (Denpasar).
• Baris Cina : Tari Baris ini diduga mendapat pengaruh budaya Cina, keunikannya terlihat dari tata busana (celana panjang dengan baju lengan panjang, selempang kain sarung, bertopi, berkacamata hitam serta memakai senjata pedang), geraknya (mengambil gerakan pencak silat), dan iringannya (gamelan Gong Bheri yaitu Gong tanpa moncol). Tarian ini menggambarkan pasukan juragan asal tanah Jawa yang datang ke Bali. Tarian ini ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya dan terdapat di desa Renon dan Belanjong, Sanur (Denpasar).
• Baris Panah : Baris ini ditarikan oleh beberapa pasang penari yang membawa senjata panah dan ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya, terdapat di daerah Buleleng dan di Bangli.
• Baris Gayung : Baris ini ditarikan oleh sekelompok penari yang terdiri dari para pemangku dengan membawa gayung atau cantil (alat untuk membawa air suci), ditampilkan dalam upacara Dewa Yadnya dan terdapat di daerah Bangli, Gianyar serta Badung.
• Baris Cerekuak : Tarian yang menggambarkan gerak-gerik sekelompok burung air (cerekuak) ketika mencari kekasihnya, burung manuk dewata. Para penarinya memakai busana babuletan (kain yang dicawatkan sampai di atas lutut) dengan hiasan dari daun- daunan pada sekujur tubuh dan kepala, hanya ditampilkan dalam upacara Pitra Yadnya (Ngaben) dengan Gamelan pengiringnya Batel Gaguntangan. Tarian baris tersebut terdapat di daerah Tabanan.
• Baris Ketujeng : Tari ini menggambarkan sekelompok roh halus yang hidup di tempat angker yang dimaksudkan sebagai tari pengantar atman orang yang meninggal menuju sorga, dibawakan oleh sekelompok penari yang mengenakan busana dari dedaunan. Tari baris ini dipertunjukan dalam upacara Pitra Yadnya (Ngaben)
• Baris Omang : Tari Baris yang mempergunakan senjata tombak tetapi gerakannya perlahan-lahan seperti jalannya siput (Omang), menggambarkan pertempuran antara pasukan Tegal Badeng (Badung) dengan pasukan Guwak (burung gagak). Tarian ini sangat disucikan oleh masyarakat Selulung (Kintamani – Bangli, dan terdapat dalam upacara Dewa Yadnya.
• Baris Kuning : Merupakan tarian upacara Dewa Yadnya yang ditarikan oleh sekelompok penari pria yang berbusana serba kuning dan bersenjatakan keris dan tamiang (perisai), terdapat di daerah Buleleng.
• Baris Kelemet : Tarian ini dibawakan oleh sekelompok penari yang memerankan para nelayan, dengan senjata semacam dayung dan menggambarkan orang naik sampan di laut untuk menangkap ikan, tari ini ada dalam upacara Dewa Yadnya dan terdapat di daerah Badung.
• Baris Jojor : Tarian baris yang ditarikan sekelompok penari dengan membawa senjata Jojor (tombak bertangkai panjang) terdapat dalam upacara Dewa Yadnya dan ada di daerah Buleleng, Bangli dan Karangasem.
• Baris Tengklong : Tari yang dibawakan oleh sekelompok penari dengan senjata pedang, gerakannya dinamis, perkasa dan mendekati gerakan pencak silat. Khusus ditampilkan dalam upacara di Pura Penambangan Badung, tepatnya di desa Pamedilan Kodya Denpasar.
• Baris Tunggal
wouh, banyak ya. Tari Baris ini biasanya dibagi jadi 3 babak. yaitu babak pembuka , babak alus, dan babak penutup. Di Babak pembuka ini biasanya gerakannya lebih agresif. biasa first imprest. hehehe. trus babak kedua gong atau musiknya akan lebih lembut. biasanya gerakannya pun lebih berwibawa. Babak penutup hampir sama dengan babak pertama.
Sumber: Team Survey ASTI


TARI TOPENG PUTRI BALI
Drama tari topeng adalah merupakan seni tari warisan budaya masyarakat Hidu
yang ada di Bali, yang terus berjalan dan berkembang, berubah sejalan dengan
perubahan nilai nilai artistik, sosial, dan kultural dari masyarakat Bali.
Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam
lingkungan masyarakat pendukungnya telah membuat drama tari tupeng ini hingga
kini mendapat tempat yang cukup istimewa dihati masyarakat, khususnya Hindu
yang ada di Bali maupun orang bali yang ada diluar bali.
Kedepan masyarakat perlu tetap terbuka namun selektip dalam menerima berbagi
inovasi yang dilakukan oleh para seniman topeng dalam meresponse berbagai
perubahan yang terjadi disekitarnya. Hanya dengan sikap seperti ini, kita akan
memberikan kondisi yang kondusif bagi seni pertopengan kita agar tetap hidup
dan berfungsi dalam berbagai aspek kehidupan spiritual, Social, dan cultural
dari masyarakat kita.
Semoga warisan budaya adi luhung ini akan tetap hidup bagaikan sekuntum bungan
yang senantiasa menebar bau haarum semerbak dalam kehidupan seni dan budaya
bali sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

TINJAUAN SEJARAH:
Latarbelakang topeng di Bali pada umumnya, dikaitkan dengan adanya Topeng di
Blahbatuh (Gianyar) dalam penelitian yang telah dilaksanakan dalam tahun 1977.
Team akademi senitari Denpasar, berhasil mengumpulkan data-data, tentang
bagaimana munculnya topeng di Blahbatuh ini.
Namun sebelumnya perlu kiranya diketahui, seni pertunjukan mempergunakan topeng
di bali sudah berkembang sejak zaman pemrintahan raja Jaya Pangus sekitar abad
X. Dalam kumpulan prasasti Jaya Pangus ini sudah ditemui beberapa istilah
istilah seperti: atapukan yang artinya pertunjukan yang mempergunakan alat alat
penutup muka ( TOPENG )

Di Pura dalam penataran Topeng Blahbatuh, tersimpan topeng sebanyak 22 buah
berasal dari Jawa dan Bali, satu diantaranya adalah Topeng Maha Patih Gajah
Mada, yang konon sempat diboyong Keistana, sekarang ini keberadaanya entah
diamana, semoga Karisma dari topeng ini tetap memberikan Nuansa keagungan
Nusantara.
Dari mana asal muasal 22 topeng yang ada di Blahbatuh ini....mari kita ikuti
sejarahnya.

Dalem Waturenggong.
Beliau adalah seorang Dalem kerajaan gelgel yang konon parasnya sangat tampan,
disamping tampan beliau juga ”BAGUS AENG” sehingga sangat karismatik dalam
peminpinannya.
Untuk mendapatkan pasangan yang sepadan, maka beliau melamar seorang Putri
kerajaan Blambangan, yang sangat aduhai kadi ratih ring
umbara.......he.......he......
Setelah lamarannya diterima oleh raja Blambangan, dalam tahap pengambilan
keputusan, maka secara diam diam sang putri mengirim utusan detektip ke Gelgel
untuk meyakinkan seperti apasih Dalem Waturenggong itu yang konon guantengnya
ratu sejagat. ( sayang waktu itu tidak ada camera ) maka yang dipakai memotret
adalah tukang lukis yang dikirimkan...pokoknya orat oret.....asal jadi ( bukan
jeprat jeprat asal jadi) he...

Namun entah bagaimana sipelukis wajah ini, .......berani membelot, sehingga
wajah Dalem kita yang guagah.... ini munculah wajah seorang yang sedang sakit
gigi.....ah....tulalit.....tiang dari lulali.....?Tulalit lah.......
Akhrinya terjadilah persitegangan saat itu, Blambangan diserang habis and
takluk.......... sampai akhirnya, sebagai tanda bukti kemenangan kerajaan
Gelgel bawalah beberpa buah Tapel / topeng dari beberapa maha patih, putri
cantik, dsbnya sebanyak 22 buah sebagai tanda menyerah dan Blambanan under
kekuasaan Raja Bali.........

Mengenal Jenis Jenis Topeng
Ada 4 jenis topeng yang kita kenal adalah, Topeng sidhakarya, Topeng Panca,
Topeng Prembon, Topeng Bondres....es....es....
Yang ini sampai sekarang sangat melekat dihati masyarakat Hindu. Walaupun Hak
patent nya sudah di patentkan oleh Jepang ( irage nu saling gut gut ) sementara
jepang sudah menpatenkannya.

Nah Sekarang supaya Mangkunya tidak Ngomel Pedidi, tolong dijawab sebagai
berikut.
Kenapa disebut Topeng Sidhakarya.....
Kenapa pada saat penutupan Topeng sidhakarya selalu ngejuk anak cerik untuk
ending upakara
Pada saat Pujawali, jeg merebut Topeng, Wayang Lemah, Kulkul, Dharmawacana,
kekidung nodak, kenapa harus bersamaan,,,.....? Pussiiiinggggg cen kaden pebalih
Siapa yang tau keberadaan Topeng Gajah Mada sekarang ada dimana......?
Apa bedanya Topeng dengan Tapel......ayo lho siapa bisa jawab................?
Jawaban dikirimkan selambat lambatnya akhir October......
Berhadiah, dan ambil sendiri....beli sendiri....dan bahyar sendiri.
Suksme.











Tari Barong adalah pertunjukan seni paling populer dan diminati oleh wisatawan di Bali seperti Tari Kecak Uluwatu. Belum lengkaplah liburan ke Bali, sebelum menonton pertunjukan seni berkualitas ini.
Tari Barong adalah tarian khas Bali yang berasal dari khazanah kebudayaan Pra-Hindu. Tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kebatilan (adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong, yaitu penari dengan kostum binatang berkaki empat, sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda, yaitu sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya.

Ada beberapa jenis Tari Barong yang biasa ditampilkan di Pulau Bali, di antaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Gajah, Barong Asu (anjing), Barong Brutuk, serta Barong-barongan. Namun, di antara jenis-jenis Barong tersebut yang paling sering menjadi suguhan wisata adalah Barong Ket, atau Barong Keket yang memiliki kostum dan tarian cukup lengkap.

Kostum Barong Ket umumnya menggambarkan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Di badannya dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan-potongan kaca cermin, dan juga dilengkapi bulu-bulu dari serat daun pandan. Barong ini dimainkan oleh dua penari (juru saluk/juru bapang): satu penari mengambil posisi di depan memainkan gerak kepala dan kaki depan Barong, sementara penari kedua berada di belakang memainkan kaki belakang dan ekor Barong.

Secara sekilas, Barong Ket tidak jauh berbeda dengan Barongsai yang biasa dipertunjukkan oleh masyarakat Cina. Hanya saja, cerita yang dimainkan dalam pertunjukan ini berbeda, yaitu cerita pertarungan antara Barong dan Rangda yang dilengkapi dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Kera (sahabat Barong), Dewi Kunti, Sadewa (anak Dewi Kunti), serta para pengikut Rangda.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar