Senin, 12 April 2010

DEKANDENSI MORAL PARA PEMUDA PEMUDI DI ERA GLOBALISASI BESERTA SOLUSINYA






Ungensi moral atau budi pekerti dalam kehidupan masyarakat sudah tidak diragukan lagi, bahkan moral dapat dijadikan ukuran atau barometer untuk mengetahui sampai dimana kualitas hidup serta kebudayaan suatu masyarakat, bangsa ataupun sebuah negara.

Pengertian Dekadensi Moral
Sebelum saya bahas permasalahan ini, dapat diambil terlebih dahulu dari mana asal katanya. Secara Etimologi Dekadensi berasal dari bahasa Inggris Decadence yang berarti kemerosotan, sedangkan moral berasal dari 2 bahasa. Bahasa Latin yaitu Mores; Merupakan jamak dari kata Mos yang berarti adat kebiasaaan, sedangkan di dalam kamus umum Bahasa Indonesia dikatakan bahwa Moral adalah baik buruk perbuatan dan perilaku.
Pengertian moral ini secara tegas juga disampaikan oleh Imam Al-Ghazali, yaitu Budi Pekerti (moral/akhlak) ibarat dari perilaku yang sudah menetap dalam jiwa yang dapat melahirkan perbuatan yang mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. Dan apabila perilaku tersebut melakukan perbuatan baik atau terpuji, baik menurut akal akal maupun tuntunan agama. Maka perilaku tersebut dinamakan perilaku yang baik. Apabila perbuatan yang dilakukan jelek maka budi pekerti tersebut dinamakan budi pekerti yang jelek.

Dasar Ajaran Moral/Akhlak
Dasar ajaran moral dalam Islam adalah Al Qur’an dan hadits, serta hasil pemikiran para ulama, hukama dan filosof. Firman Allah dalam QS. Al Qolam ayat 4 yang artinya. “ dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar budi pekerti yang agung”.
Dengan demikian dekadensi moral berarti terjadinya suatu kemerosotan kerusakan tata nilai, moral/akhlak manusia. Diamana tingkah laku, sikap, perbuatan manusia sudah tidak sesuai lagi dengan norma-norma agama, masyarakat dan norma-norma lainnya yang mengatur kehidupan manusia untuk berperilaku baik.
Saat ini pun tak bisa kita pungkiri para remaja, pemuda, anak-anak yang kan tumbuh remaja telah terjadi dekadensi. Hal ini tentunya terjadi karena banyak faktor. Antara lain masuknya Budaya Barat yang diwakili oleh Amerika dan Eropa membawa hal yang negatif dan tak terfilter merubah tata nilai, norma-norma dan etika para penerus generasi bangsa. Akses informasi akan terus berkembang ke seluruh belahan dunia yang akan merubah pola pikir dan pola hidup masyarakat pula. Memang tak selamanya budaya barat berdampak negatif semua. Dalam hal kemajuan teknologi misalnya Barat lebih maju dan hal itu harus ditiru, karena ajaran Islam memang memerintahkan untuk menguasai teknologi.
Munculnya istilah pergaulan bebas seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam peradaban umat manusia, kita patut bersyukur dan bangga terhadap hasil cipta karya manusia, karena dapat membawa perubahan yang positif bagi perkembangan/kemajuan industri masyarakat. Tetapi perlu disadari bahwa tidak selamanya perkembangan membawa kepada kemajuan, mungkin bisa saja kemajuan itu dapat membawa kepada kemunduran. Dalam hal ini adalah dampak negatifyang diakibatkan oleh perkembangan iptek, salah satunya adalah budaya pergaulan bebas tanpa batas.
Dilihat dari segi katanya dapat ditafsirkan dan dimengerti apa maksud dari istilah pergaulan bebas. Dari segi bahasa pergaulan artinya proses bergaul, sedangkan bebas artinya terlepas dari ikatan. Jadi pergaulan bebas artinya proses bergaul dengan orang lain terlepas dari ikatan yang mengatur pergaulan.
Islam telah mengatur bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis. Hal ini telah tercantum dalam surat An-Nur ayat 30-31. Telah dijelaskan bahwa hendaknyakita menjaga pandangan mata dalam bergaul. Lalu bagaiamana hal yang terjadi dalam pergaulan bebas? Tentunya banyak hal yang bertolak belakang dengan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan dalam etika pergaulan. Karena dalam pergaulan bebas itu tidak dapat menjamin kesucian seseorang.
Pacaran merupakan satu konsep yang sama dengan pergaulan bebas. Dari sumber di atas kita telah mengetahui bahwa pergaulan bebas tidak mengenal batas-batas pergaulan. Para remaja dengan bebas saling bercengkrama, bercampur baur (ikhtilat) antara lawan jenis, akibatnya mudah di telusuri berkembanglah budaya pacaran.
Kecintaan terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia. Tetapi pacaran buakanlah wadah yang tepat. Cinta bukanlah sekedar pandangan mata ataupun kerlingan. Bukan pula lembaran surat yang berisi pujian kata yang melebihi dari ikatan pernikahan, dan cinta tidak akan berakhir dengan pernikahan.
Banyak orang yang mengagungkan dan memproklamirkan kata cinta. Namun mengapa gambaran dan kenyataan pahit mewarnai dunia cinta. Betapa banyak cinta berujung pada pembunuhan bayi-bayiyang tak berdosa. Banyak orang yang memiliki cinta melakukan hal yang keji. Cinta berubah menjadi perceraian dan mengakibatkan suramnya masa depan generasi mendatang. Mengapa pula cinta bisa dijajakan di sembarang tempat oleh wanita berbusana minim ? Hal-halyang mengenaskan sekaligus memalukan itu menjadi daftar persoalan yng melingkupi dunia cinta.
Sebagian orang berpendapat bahwa cinta bermakna kecenderungan terus menerus disertai dengan hati yang meluap-luap. Inilah yang membuat seseorang menjadi buta dan tuli. Kebutaan ini dapat diartikan tidak lagi melihat tata nilai terutama nilai-nilai syariatislam, sehingga banyak orang menabrak nilai-nilai Islam dalam mengekspresikan cintanya. Dan yang dimaksud tuli yaitu tidak mau mendengar nasihat-nasihat agama yang seharusnya dapat membingkai cintanya. Seperti yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Kecintaanmu kepada sesuatu bisa membuat buta dan tuli.” (HR. Ahmad). Lain halnya dengan seseorangyang berada dalam wilayah tidak terlarang, seperti seseorang yang berada jauh dari rumah lalu merindukan istrinya.
Semua aktifitas tubuh kita berpotensi menimbulkan zina ketika digerakkan atas nama syahwat yang melesat lepas dari kendali fitrah. Namun nama Allah Maha Pemurah, zina yang dilakukan selain farji tidak sampai dikenakan hukuman cambuk. Ia masih bisa dihapus dengan taubat yang tulus dan ditebus dengan amal-amal shalih. Cara untuk menghindari zina adalah dengan mengendalikan hawa nafsu dan menutup rapat-rapat pintu zina.
Banyak hal-hal yang negatif yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas. Ini semua telah terlukis oleh mereka di belahan bumi Barat, yang dulu mengagung-agungkan kebebasan dalam segala hal, termasuk kebebasan seks, kini mereka menjerit. Angka perceraian sangat tinggi, dan pranata pernikahan diragukan. Akibatnya keluarga sebagai sendi masyarakat runtuh, kemudian terjadilah dekadensi moral. Wabah AIDS menebarkan kengerian dan ketakutan karena semakin liarnya perilaku masyarakat dalam free sex.
Apa yang terjadi di Barat dapat kita sinyalir dari tulisan George Balusyi dalam bukunya ; “Ledakan Seksual”, yaitu ; “pada tahun 1962, Kennedy menjelaskan, masa depan Amerika diancam bahaya, sebab para pemudanya cenderung dan tenggelam di dalam syahwat sehingga tidak mampu memikul tanggung jawabyang harus dipikul di atas pundaknya. Setiap tujuh pemuda yang maju untuk jadi tentara, terdapat enam pemuda yang tidak pantas dijadikan tentara. Sebab syahwat yang telah mereka lampiaskan itu, telah merusak keseimbangan hygienis dan psikis mereka”.
Budaya free sex tidak jauh berbeda dengan budaya pacaran. Dan dengan menghubungkan fakta yang terjadi di sekitar kita, banyak para pemuda dan pemudi yang mengaku dirinya muslim tetapi mereka melakukan perbuatan zina. Juka hal ini dibiarkan, maka akan sangat berabhaya bagi kelanjutan da’wahIslam. Betapa sedihnya jika ummat Islam yang begitu besar tetapi akhlak para pemudanya penuh dengan kebobrokan
Tantangan yang harus dihadapi oleh para pemuda muslim di zaman yang penuh dengan kemesuman dan kemaksiatan serta tak mengenal rasa malu, adalah tantangan krisis moral (dekadensi moral) serta kerusakan sosial. Orang biasa yang menghadapi tantangan ini tidak mampu melawannya, bahkan seringkali terpaksa harus melepaskan diri dari ikatan nilai-nilai kepatutan dan membebaskan diri dari budi pekerti yang terpuji dan mulia, serta memerdekakan diri dari tradisi-tradisi Islam yang asli, lalu setelah itu ia terjerumus ke dalam kubangan lumpur nafsu dan syahwat tanpa ada benteng pencegah berupa agama ataupun kendali berupa nurani sama sekali. Tentu saja perbuatan hina itu mencampakkan kemuliaannya, melarutkan kepribadiannya, dan menghancurkan eksistensinya.
Tantangan moral yang dihadapi oleh generasi Islam hari ini sangat banyak dan beraneka ragam. Diantaranya ada yang berupa adat istiadat, ada pula yang datang dari diri sendiri, ada yang berasal dari pengaruh asing, adapula yang datang melalui media massa dan ada pula yang bersumber dari undang-undang.
1. Tantangan Adat Istiadat
Seorang wanita yang meminta mahar yang begitu mahal hanya karena mengikuti adat istiadatnya, maka hal seperti itu tidak sejalan dengan apa yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. kepada umatnya, beliau bersabda, "Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridha terhadap akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah ia (dengan anak gadis kalian)," (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw. juga bersabda, "Carilah mahar meski hanya sebuah cincin besi," (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw. juga telah memberi pengarahan kepada para wanita, beliau bersabda, "Sesungguhnya termasuk diantara wanita terbaik adalah yang paling ringan maharnya," (HR Ibnu Hibban dalam shahihnya).
"Keberkahan terbesar bagi para wanita adalah yang memudahkan urusan maharnya," (HR Ahmad dan Al-Baihaqi).
Dalam potret para salaf, Said bin Musayyab ketika menikahkan putrinya yang cantik jelita, ia menikahkan putrinya dengan seorang muridnya yang miskin, Abdullah bin Abu Wada'ah, hanya dengan mahar tiga dirham karena beliau mengetahui si murid sekufu dengan putrinya dalam agama, akhlaq, dan ilmunya. Padahal sebelumnya, Khalifah Abdul Malik bin Marwan mengajukan pinangan untuk putra mahkotanya, Alwalid bin Abdul Malik. Namun, Sa'id bin Al-Musayyab menolak pinangan tersebut kendati beliau tahu pihak yang meminang mempunyai kedudukan dan kekayaan yang demikian besar. Akibat penolakan tersebut, beliau harus menanggung derita, cobaan, kesengsaraan, dan berbagai bentuk intimidasi dari penguasa.
Potret para salaf tersebut cukup menjadi solusi untuk memecahkan permasalahan mahar, tanpa harus mengikuti adat istiadat. Hal tersebut karena para salaf mengikuti jalan yang telah Rasulullah saw. perintahkan dalam sabdanya, "Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridha terhadap agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia dengan putri kalian. Jika tidak dilakukan, maka akan timbul fitnah dan kerusakan besar di muka bumi," (HR At-Tirmidzi).
Jika para wali menjalankan perintah tersebut, maka para pemuda akan mendapatkan jalan menikah dengan mudah, mereka akan terbebas dari bayang-bayang yang senantiasa menghantui pikiran mereka, yakni mahalnya mahar dan tingginya biaya pernikahan. Mereka pun dapat menghadapi tantangan krisis moral dengan menggairahkan dunia pernikahan, mencabut akar kerusakan, dan krisis moral dalam masyarakat Islam.
2. Tantangan Diri Sendiri
Tantangan ini lebih berat dan lebih dahsyat dari segala macam tantangan krisis moral. Para pemuda yang sedang dilanda kelemahan iman, akan berani melakukan dosa dan kesalahan serta penyimpangan moral. Terlebih, jika para pemuda itu dikuasai oleh syetan manusia dan syetan jin, maka mereka akan mengikuti hawa nafsu dan menyambut dengan patuh bujukan-bujukan nafsunya.
Solusi praktis untuk membebaskan diri dari tantangan itu semua adalah dengan mengokohkan akidah rabbaniyah dalam diri, mengisi waktu-waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan, bergaul dengan orang-orang bertakwa dan beriman serta menggabungkan diri dengan jama'ah Islam yang berupaya terus menerus mendidik dan membentuk kepribadian. Dengan jalan itu semua, maka akan menjadi sosok manusia yang shaleh dan hamba-hamba Allah yang bertakwa serta istiqomah. Bahkan, akan menjadi contoh teladan bagi yang lain.
3. Tantangan Pengaruh Asing
Diantara pengaruh asing adalah semua rencana-rencana yang dirancang oleh musuh-musuh Islam untuk merusak masyarakat Islam agar secara bertahap terjerumus dalam dalam kehidupan tak bermoral dan terlempar ke tempat-tempat menyesatkan.
Dalam protokolnya, kaum Yahudi berkata, "Kita harus bekerja merusak akhlak manusia di setiap tempat, sehingga mereka mudah kita kuasai. Sesungguhnya Sigmund Freud adalah orang kita. Pikiran-pikirannya akan terus mengekspose hubungan seksual di bawah terik matahari sehingga tidak ada lagi sesuatu yang dianggap suci dalam pandangan kaum muda dan jadilah cita-citanya yang tertinggi adalah bagaimana cara untuk dapat memuaskan nafsu seksualnya. Jika keadaan sudah demikian, maka saat itulah moral kaum muda menjadi bobrok."
Mereka juga mengatakan, "Kita harus memperalat kaum wanita, kapan wanita menyodorkan tangannya kepada kita, maka saat itulah kita akan sukses menyebarkan perbuatan-perbuatan haram, dan kaum wanita itulah yang akan menghancurkan para tentara pembela agama."
Karena itu lah orang-orang Yahudi mengambil pikiran-pikiran Sigmund Freud untuk memalingkan para pemuda agar cita-cita tertingginya adalah bagaiamana memuaskan syahwat dan menikmati kehidupan yang bebas dan serba boleh.


Dekadensi moralpun tak selamanya terstigma kepada para remaja atau pemuda saja, melainkan para politikus, para pejabat, dan para pemimpin yang dzolim yang berbuat sewenang-wenang pada rakyat kecil. Sewaktu kampanye “bekoar-koar” berjuang atas nama rakyat. Tetapi setelah naik pada kursi nyaman, Lupa.
Oleh karena itu marilah saya dan kita semua berusaha selalu berbudi pekerti yang baik sebagaimana Nabi Besar Muhammad SAW. Beliau sendiri telah bersabda yang artinya “ Sesungguhnya aku diutus kedunia untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad) Wallahu a’lam

Referensi:

1. AS, Asmaran, Drs. MA, Pengantar Akhlak, PT Raja Gravindo Persada, Jakarta
2. Noor, Mansur Ahmad; Peranan Moral Dalam Membina Kesadaran Hukum, Departemen Agama RI, Jakarta 1985.
3. Kernerman Lionel; English Dictionary For Speakers of Bahasa Indonesia, Kesaint Blanc, Jakarta-Indonesia 1994.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar